Jambi oh Jambi

Jadi ceritanya sekarang gw lagi santai nih. Istilahnya: hiatus.

Pasalnya, hari-hari ini gw lagi menunggu waktu untuk memulai pekerjaan baru gw di awal bulan depan. Gw masih punya waktu kosong seminggu penuh yang sayang untuk dilewatkan. Mumpung bokap lagi tugas di Jambi, maka ini adalah saat yang tepat bagi saya untuk pergi ke sana. Kapan lagi gw bisa wisata ke Jambi kalo ga sekarang? Pada suatu Senin siang yang cerah, tanpa pikir panjang saya pun pergi ke Bandara membeli tiket pesawat untuk Selasa pagi. Garuda Indonesia hanya melayani satu kali penerbangan dari Jakarta ke Jambi setiap harinya, maka mau tak mau saya harus rela bangun di Selasa subuh untuk mengejar pesawat jam 06:30 WIB itu.

Selasa pagi jam 3 saya pun berangkat meninggalkan Depok. Seperti biasa, kali ini sekali lagi saya memanfaatkan layanan parkir inap Bandara Soekarno Hatta Terminal 2F yang legendaris itu. Perjalanan menuju bandara pagi itu terasa lancar nyaris tanpa hambatan yang berarti. Dengan kecepatan tinggi, saya tiba di Terminal 2 sekitar jam 4. Tanpa berlama-lama, saya segera mengurus parkir inap kemudian pergi melapor (check-in) ke dalam terminal keberangkatan. Selesai proses check-in, saya tersadar bahwa saya masih memiliki banyak waktu yang tersisa sebelum waktu lepas landas tiba. Beruntung, di dalam terminal keberangkatan favorit saya ini terdapat banyak tempat duduk yang terliput banyak jaringan wifi. Di antara sekian banyak jaringan wifi yang tersedia di sana, setidaknya ada 3 wifi yang gratis. Hehe.. Terima kasih untuk Lintasarta, Telkom Hotspot, dan XPoint dari XL yang bermurah hati memberikan layanan internet gratis buat saya saat itu. Saya memiliki banyak kesempatan untuk mencoba satu-per-satu wifi-wifi itu dan membanding-bandingkan mana yang terbaik. Yang pasti ritual update status mesti dilakoni: Rio is waiting at Soekarno-Hatta Airport. =b

01aZzzzzziiiingg,.. satu jam penerbangan pagi itu terasa mulus dan berakhir dengan nyaman di Bandara Sultan Thaha, Jambi. Tapi entah mengapa, sang first officer yang bertugas saat itu salah mengucapkan salam: “Bapak Ibu yang terhormat, Selamat datang di BALI”. Hoho.. Pesawat itu kemudian parkir selemparan batu dari pintu terminal kedatangan. Dekat sekali! Jadi berasa turun di terminal bis nih.. :mrgreen: Tak jauh dari situ, papa tercinta sudah terlihat dengan pakaian dinas hariannya, menunggu saya dengan didampingi mama di sampingnya. Senangnya hati ini melihat mereka berdua. Hehe..

Kota Jambi tak jauh berbeda dengan kota-kota kecil lainnya di Indonesia. Tidak ada kemacetan lalu lintas di sini. Tidak ada lampu merah dengan durasi beratus-ratus detik. Tidak ada jalan tol. Jalanan yang paling lebar hanya selebar 4 lajur saja. Kota ini tampak asri menghijau dengan banyak pepohonan yang tumbuh di dalam kota. Kesan pertama saya, Jambi bagaikan hutan yang baru disulap menjadi kota. Jambi tampak unik berhiaskan patung-patung bertema tradisional yang dibangun tersebar di berbagai titik persimpangan jalan kota ini.
Baca selebihnya »

Bokap (gw) Jaman Sekarang

technologyCeritanya, kemarin gw dapet sms dari seorang sahabat lama yang isinya begini:

Phenylpropano-lamine obat influensa (decongestant) pada 1 Maret 09 ditarik Bdn pengawasan obat & pangan Amerika (FDA), krn terbukti sebabkan PENDARAHAN di OTAK. Obat2 Ind yg mengandung phenylpropano-lamine al: xxxxxxxxxxxx (maap, lagi males nyebut merek di blog). Beritahu teman2 & saudara.

Nah, secara gw care sama bokap dan nyokap gw tercinta, maka SMS tersebut gw forward-lah ke bokap gw yang notabene saat ini baru saja mulai menunaikan tugas negara di Kota Jambi.

Beberapa jam kemudian, datanglah balasan sms darinya yang isinya seperti ini:

Rio, sy akses di www.tvone.co.id Phenylpropanolamine (PPA) yg terkandung dlm obat flu & obat batuk yg beredar di Indonesia masih dlm batas aman dikonsumsi.

OMG! bokap gw.. Sejak kapan jadi hi-tech? Sekarang bisa buka-buka internet sendiri secara umurnya yang hampir sama dengan umur kemerdekaan Indonesia itu, boooo. Ih, untung doi belum bisa Facebook ya. Apa jadinya kalo dia sampe add gw as friend on Facebook? Tidaaaaaak..

My Long Weekend

Surabaya at Night

Surabaya at Night

Long weekend Pemilu+Paskah kemarin ini saya habiskan dengan pergi jalan-jalan ke Jawa Timur.

Mama ngajakin ke Puhsarang, tempat wisata yang ada di Kediri. Bosen juga siy rasanya.. Mengingat belum terlalu lama saya juga baru dari sana. Tapi, daripada luntang-lantung keliling mal di Jakarta pada liburan ini, lebih baik saya ikut saja ke Puhsarang. Lagian, biaya ditanggung nyokap ini.., naek pesawat pula! Siapa yang ga mau? Hehehe..

Untuk “liputan” tentang Puhsarang, dahulu sudah pernah saya ceritakan di blog ini. Tidak ada yang berubah dari obyek wisata ini semenjak terakhir kali saya berkunjung ke sana. Cerita tentang Puhsarang yang lampau, bisa Anda simak di sini. Karena itu, pada kesempatan ini saya tidak cerita tentang Puhsarang lagi, tapi tentang perjalanan saya saja.

Rabu petang saya menumpang pesawat Garuda Indonesia penerbangan GA 326 pukul 18:00 WIB jurusan Jakarta-Surabaya. Berbeda dengan saya yang berangkat dari Jakarta, kedua orang tua saya berangkat lebih awal dari Palembang menuju Surabaya dengan sebuah connecting flight yang transit di Jakarta. Penerbangan lanjutan mereka menuju Surabaya adalah GA 326 yang akan saya tumpangi ini. Dengan demikian, saya akan berjumpa dengan mereka di pesawat. Wew~

Sore itu saya membawa mobil untuk diparkir inap di bandara. (Hari gini, bo.. Was-was juga kan meninggalkan mobil di rumah kosong..) Busyet, lalu lintas padat merayap! Dag-dig-dug berdebar hati ini khawatir ketinggalan pesawat.. Saya mendapat panggilan telepon dari Garuda Indonesia yang mengingatkan waktu keberangkatan sudah dekat, dan menanyakan mengapa saya tak kunjung melapor (check in). 20 menit sebelum pesawat lepas landas, saya tiba di tempat pelaporan. Ada yang berbeda di tempat pelaporan Terminal 2F sekarang ini. Jaman dahulu, untuk melakukan check in, saya harus mencari dan melapor di meja pelaporan yang sesuai dengan kota tujuan saya. Kadang-kadang bisa jereng juga mata ini karena kesulitan mencari meja pelaporan mana yang sesuai dengan nomor penerbangan saya dari sekian banyak deret meja pelaporan yang ada di sana.. He..he.. Sekarang, saya dapat melapor di meja pelaporan Garuda Indonesia mana saja yang sedang kosong tanpa mempedulikan kota tujuan dan nomor penerbangan. Two thumbs up buat Garuda Indonesia untuk kemajuan layanan ini. :) fiuh~ Setelah menimbang bagasi, saya mendapat tempat duduk paling belakang: nomor 30E! Wah.. 30?? Belum pernah sebelumnya saya menumpang pesawat ke Surabaya yang punya 30 deret kursi. Pasti ini pesawat yang besar!
Baca selebihnya »

Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan

Gerbang Utara

Ragunan Zoological Park

Kalau minggu lalu saya berkesempatan mengunjungi taman hiburan terbesar di Asia Tenggara, maka minggu ini saya melancong ke kebun binatang terbesar di Asia Tenggara. Hohoho.. Suatu hari saya pernah menyaksikan liputan tentang Taman Margasatwa (TM) Ragunan di sebuah stasiun televisi luar negeri. Disebutkan bahwa selain merupakan kebun binatang terbesar di kawasan Asia Tenggara, TM Ragunan ternyata juga memiliki sebuah pusat konservasi primata terbesar di dunia. Yang dimaksud primata itu adalah Gorila, Orang Utan, Siamang, dan kawan-kawannya. Wah, saya jadi pengin ke sana, nih..

Hari itu adalah Hari Minggu yang cerah. Seorang kenalan mengajak jalan ke Taman Margasatwa Ragunan. Secara saya memang belum pernah ke kebun binatang ini sebelumnya, maka ini adalah kesempatan yang baik bagi saya untuk mengunjungi TM Ragunan. Lagipula saya juga penasaran dengan pusat primata terbesar di dunia itu.

Taman Margasatwa Ragunan

Taman Margasatwa Ragunan

Masuk pelataran parkir TM Ragunan, saya harus membayar biaya Rp 5.500 untuk parkir mobil dan tiket masuknya sebesar Rp 4.500 per orang dewasa. Saya cukup terkejut dengan besarnya antusiasme masyarakat yang datang ke TM ini. Sumpe lo, ternyata orang Jakarta banyak juga yang doyan jalan-jalan di mari. :mrgreen: Sayang sekali, pelataran parkir TM Ragunan saat itu sungguh semrawut dan ramai dengan kehadiran para pedagang kaki lima yang berjualan tidak teratur. Setelah cukup lama berputar-putar mencari tempat parkir, melewati sempitnya jalan di sela-sela pedagang kaki lima tanpa bantuan petugas parkir, akhirnya saya mendapatkan tempat parkir yang nyaman, kemudian bergegas masuk ke dalam TM Ragunan untuk membeli makanan di kantin (laper bo!). Usai makan, barulah saya memulai ekspedisi Ragunan hari ini.

Walaupun mentari bersinar terik, areal TM Ragunan seluas 140 hektar ini tetap teduh dan sejuk berkat banyaknya pepohonan hutan hujan tropis yang rindang di sana. Landscape TM Ragunan pun lengkap dengan danau yang indah beserta berbagai sarana aktifitasnya, seperti sepeda air, rakit, hingga roller coaster anak-anak. Untung kebun binatang ini luas sekali, sehingga banyaknya pengunjung yang datang tidak membuatnya terasa sesak.

Kita harus berjalan kaki dari satu kandang ke kandang yang lain. Jika tidak ingin berjalan kaki, tersedia rental sepeda di sana. Kalo mau, boleh juga naik kereta wisata yang tersedia. Berbagai macam binatang tropis bisa kita lihat dari dekat. Mulai dari yang melata, merayap, bergelantung, berjalan, berenang, hingga yang terbang pun ada. Komplet dah! Saya sudah cukup lama berjalan kaki menjelajah sudut-sudut kebun binatang ini dan mulai merasa lelah, tapi saya belum juga menemukan pusat primata terbesar di dunia yang terkenal itu. Di manakah gerangan ia berada?
Baca selebihnya »

Picasa, Software Pengolah Gambar Ajaib Untuk Pemula

Logo PicasaKegiatan fotografi sudah menjadi bagian dari keseharian kita dewasa ini, terutama yang tinggal di kota-kota besar. Dengan kemajuan teknologi jaman sekarang, kita pun jadi mudah sekali untuk mengabadikan momen-momen yang kita anggap berkesan, kapan pun dan di mana pun kita berada, hanya dengan berbekal sebuah kamera ponsel yang selalu kita tenteng ke mana-mana setiap hari. Sebuah telepon seluler memang diciptakan agar bisa dibawa-bawa dengan nyaman. Kehadiran fitur kamera yang jamak ditanamkan pada ponsel-ponsel keluaran terbaru membuat aktivitas memotret menjadi semakin nyaman dan mobile.

Namun demikian, hasil jepretan kamera ponsel tentu saja tidak sebagus kamera digital (non-ponsel) yang memang sengaja dirancang untuk kebutuhan imaging yang mumpuni. Boleh dibilang, hasil jepretan kamera ponsel hanya asal jadi saja, sekalipun ukuran kamera ponsel tersebut sudah bermega-mega piksel. Gambar yang diambil dari kamera ponsel pada umumnya, walaupun kamera ponsel tersebut memiliki fitur auto-focus maupun beragam fungsi auto-auto lainnya, tetap saja hasilnya selalu pas-pasan dan terkadang kurang memuaskan. Untuk mendapatkan hasil foto yang berkualitas baik, tak jarang dari kita yang kemudian harus memolesnya terlebih dahulu dengan suatu program di komputer sebelum mencetaknya atau upload ke internet.

Salah satu piranti lunak (software) yang cukup terkenal di dunia olah foto digital adalah Adobe Photoshop. Namun demikian, cara penggunaan software ini boleh jadi terlalu rumit, terlebih bagi kita yang awam dalam dunia edit-mengedit foto digital. Memang Adobe Photoshop bukan ditujukan bagi orang amatir, melainkan ia diciptakan untuk kebutuhan olah foto digital para profesional. Diperlukan keahlian khusus untuk menguasainya secara penuh, bahkan ada tempat kursus komputer di Jakarta yang membuka kelas khusus program Adobe Photoshop. Lagipula, harga software Adobe Photoshop yang asli juga tidak bersahabat dengan kantong para fotografer amatir seperti saya. Hehe~

Nah, untuk Anda fotografer pemula yang ingin meningkatkan kualitas hasil jepretan digitalnya, sekarang tersedia software yang bernama Picasa 3.0. Ini adalah software pengelola gambar keluaran Google Inc. Seperti biasa, software keluaran Google selalu dibuat sederhana, mudah digunakan, tampilannya menarik, dan yang terpenting: Gratis!

Baca selebihnya »

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »