My Long Weekend

Surabaya at Night

Surabaya at Night

Long weekend Pemilu+Paskah kemarin ini saya habiskan dengan pergi jalan-jalan ke Jawa Timur.

Mama ngajakin ke Puhsarang, tempat wisata yang ada di Kediri. Bosen juga siy rasanya.. Mengingat belum terlalu lama saya juga baru dari sana. Tapi, daripada luntang-lantung keliling mal di Jakarta pada liburan ini, lebih baik saya ikut saja ke Puhsarang. Lagian, biaya ditanggung nyokap ini.., naek pesawat pula! Siapa yang ga mau? Hehehe..

Untuk “liputan” tentang Puhsarang, dahulu sudah pernah saya ceritakan di blog ini. Tidak ada yang berubah dari obyek wisata ini semenjak terakhir kali saya berkunjung ke sana. Cerita tentang Puhsarang yang lampau, bisa Anda simak di sini. Karena itu, pada kesempatan ini saya tidak cerita tentang Puhsarang lagi, tapi tentang perjalanan saya saja.

Rabu petang saya menumpang pesawat Garuda Indonesia penerbangan GA 326 pukul 18:00 WIB jurusan Jakarta-Surabaya. Berbeda dengan saya yang berangkat dari Jakarta, kedua orang tua saya berangkat lebih awal dari Palembang menuju Surabaya dengan sebuah connecting flight yang transit di Jakarta. Penerbangan lanjutan mereka menuju Surabaya adalah GA 326 yang akan saya tumpangi ini. Dengan demikian, saya akan berjumpa dengan mereka di pesawat. Wew~

Sore itu saya membawa mobil untuk diparkir inap di bandara. (Hari gini, bo.. Was-was juga kan meninggalkan mobil di rumah kosong..) Busyet, lalu lintas padat merayap! Dag-dig-dug berdebar hati ini khawatir ketinggalan pesawat.. Saya mendapat panggilan telepon dari Garuda Indonesia yang mengingatkan waktu keberangkatan sudah dekat, dan menanyakan mengapa saya tak kunjung melapor (check in). 20 menit sebelum pesawat lepas landas, saya tiba di tempat pelaporan. Ada yang berbeda di tempat pelaporan Terminal 2F sekarang ini. Jaman dahulu, untuk melakukan check in, saya harus mencari dan melapor di meja pelaporan yang sesuai dengan kota tujuan saya. Kadang-kadang bisa jereng juga mata ini karena kesulitan mencari meja pelaporan mana yang sesuai dengan nomor penerbangan saya dari sekian banyak deret meja pelaporan yang ada di sana.. He..he.. Sekarang, saya dapat melapor di meja pelaporan Garuda Indonesia mana saja yang sedang kosong tanpa mempedulikan kota tujuan dan nomor penerbangan. Two thumbs up buat Garuda Indonesia untuk kemajuan layanan ini. :) fiuh~ Setelah menimbang bagasi, saya mendapat tempat duduk paling belakang: nomor 30E! Wah.. 30?? Belum pernah sebelumnya saya menumpang pesawat ke Surabaya yang punya 30 deret kursi. Pasti ini pesawat yang besar!

Garuda Indonesia Boeing 737-800 NG

GA B737-800NG

GA B737-800NG

Eng-ing-eng.. Benar saja. Itu adalah Boeing 737-800 NG (New Generation) yang baru dibeli oleh Garuda Indonesia. Wow! Welcome aboard. Kursinya lebih besar dan nyaman, dengan tata ruang kabin yang terasa lebih lega. Tersedia beberapa buah televisi LCD yang secara otomatis dapat membuka/menutup pada beberapa penjuru langit-langit kabin. Yang menarik, bagian ujung kedua sayap pesawat ini bentuknya bengkok ke atas. Persis seperti pesawat yang saya lihat di iklan Garuda di televisi! Bagian ini nampak jelas dari kaca jendela saya yang notabene berada di pesawat bagian paling belakang. Thanx God, saya boleh menikmati pesawat yang nyaman dan terbaru ini. :mrgreen:

Zzziiing.. penerbangan 1 jam malam itu terasa mulus dan nikmat. Saya pun tiba di Bandara Juanda, Surabaya. Wew.. Surabaya masih tetep panas.. panas.. bikin pusing. he..he.. Satu hari lamanya saya di Surabaya menikmati panasnya udara ini. Sumpe d.. Surabaya is so sexy! She’s so hooot.. panasss banget! :lol:

Pada hari yang ke-3, saya dan keluarga berangkat ke Puhsarang, Kediri. Saat itu adalah Jumat Agung. Saya tiba di Puhsarang pukul 14:30 WIB, hanya 30 menit sebelum misa Jumat Agung dimulai. Wow.. Kebetulan.. Padahal saya tidak tahu kapan misa Jumat Agung di sana akan dimulai. Lagipula, ga ada rencana juga mau misa di Puhsarang. Karena saat tibanya pas, maka saya ikut misa Jumat Agung tersebut.

Basa Jawa

Aksara Jawa

Aksara Dasar Jawa

Misa Jumat Agung yang saya ikuti di Puhsarang kali ini diadakan di sebuah gereja kecil berdesain mirip candi jawa kuno dan dibawakan dalam Bahasa Jawa halus pula (krama inggil). Waduh.. pusing lah saya berusaha menerjemahkan satu-per-satu kata-kata yang super halus itu.. FYI, Bahasa Jawa memiliki 3 tingkat kehalusannya (honorific). Setiap kata dalam Bahasa Jawa memiliki tiga buah varian dari yang kasar (ngoko), menengah (krama), dan juga yang paling halus (krama inggil). Terkadang, untuk setiap tingkatnya pun masih ada pembedaan lagi. Tak jarang, sesuatu hal dalam Bahasa Jawa bisa jadi memiliki hingga 5 varian kata tingkat bahasa.. Padahal artinya sama aja, bo.. Begitulah Bahasa Jawa. hehe.. Agak serupa dengan Bahasa Korea yang juga memiliki tingkat-tingkat seperti ini, tapi bagi saya Bahasa Jawa jauh lebih rumit, mengingat Bahasa Jawa memiliki 3 tingkat honorific di mana setiap kata mulai dari subyek, predikat, obyek, dan keterangan, semuanya harus diubah-ubah dan disesuaikan dengan tingkat kehalusan bahasa yang sedang dituturkan pada suatu waktu. Bagi saya, belajar Bahasa Jawa itu serasa belajar 3 bahasa sekaligus. hue.. Pertama-tama ikut misa itu masih bisa mengerti dan mengikuti. Tapi, lama-kelamaan cape juga karena terlalu banyak vocabulary Jawa krama yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Bingung lah saya mengikuti misa sore itu.. Kira-kira aja, dah.. Haha..

Keesokan harinya, saya dan keluarga kembali ke Surabaya. Di malam hari, saya diajak orang tua mengikuti Misa Malam Paskah di Gereja Gembala Yang Baik, Surabaya. Untuk misa yang akan dimulai pukul 21:00 WIB itu, saya datang pukul 20:00 WIB di saat masih berlangsung misa pertama.. Berbeda dengan gereja di Puhsarang kemarin yang bertema candi jawa kuno, gereja di Surabaya ini tampak anggun, megah, dan modern. Terdapat 8 ornamen tiang penyangga yang megah dan tinggi di altar, seolah terinspirasi dari kemegahan arsitektur kerajaan Romawi. Wow.. Namun demikian, entah mengapa pintu gerbang utama gereja ini ditutup, dan dijaga seorang petugas satpam yang garang.. Duh.. serem aja.. Saya memutuskan menyelinap masuk dari pintu gerbang samping saja, daripada harus “melangkahi mayat” satpam itu.. Hehe.. Agak aneh, memang.. Baru kali ini saya menemukan pintu gerbang gereja yang sedang melangsungkan Misa, tapi ditutup dan dijaga satpam yang melarang umat untuk masuk ke halaman gereja.. Hello??

Misa malam itu diadakan dalam Bahasa Indonesia. Hore.. Tapi misa kali ini berjalan sangat lama dan lambreto, karena ditambah dengan acara pembabtisan segala. Doooh.. mana Surabaya panas banget, ni gereja ga ada AC-nya.. Huuu… ngantuk, panas, haus, pusiing. hyaa~ Jam setengah 1 pagi baru kelar d tuh misa.. Haaaaah… panaaassss… tapi Selamat Paskah.. haha..

Pulang, trus makan. Setelah itu beberes koper sebentar, kemudian bobok..

B737-300 at Juanda Int'l Airport

B737-300 at Juanda Int'l Airport

Besok paginya, tak terasa saya sudah 4 hari di Jawa Timur. Hari ini saya akan kembali ke Jakarta. Wah.. kangen juga rasanya dengan Jakarta.. Sepanas-panas Jakarta, rupanya masih lebih nyaman buat gw daripada Surabaya. He..he.. Hari ini saya akan pulang dengan Garuda Indonesia GA 313 (kayak nomer mobilnya Donal Bebek ni..)
Penerbangan kali ini dengan pesawat Boeing 737-300. Pesawatnya agak kecil, kursinya hanya 21 deret. Saya duduk di deret 14, dekat sayap. Tidak ada televisi di pesawat ini, jadi pramugari/a yang bertugas harus memperagakan prosedur keselamatan penerbangan secara tradisional dengan “bergerak-gerak” dan menjadi bahan tontonan di tengah lorong gitu.. he~

1 jam dan 9 menit kemudian..

Bumm.. Roda pesawat yang saya tumpangi memukul landas pacu Bandara Soekarno-Hatta. Thanks God! Selamat datang di Jakarta! Waktu setempat menunjukkan pukul 12:09, tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Surabaya. Yiihaa.. saya kemudian berpisah dengan kedua orang tua saya di terminal kedatangan bandara, karena mereka akan melanjutkan perjalanan dengan connecting flight menuju Palembang. Bye~

Parkir Khusus Menginap Terminal 2

Sampai di tempat parkir khusus, saya mendapati mobil saya telah dicuci. Untuk parkir selama 94 jam dan 43 menit itu, saya dikenakan biaya Rp 192.000 (belum termasuk biaya cuci mobil Rp 20.000) wehehehe.. Ini adalah kali pertama saya parkir menginap di Teminal 2 Soekarno-Hatta, meninggalkan mobil untuk parkir dan ditinggal di Bandara. Lumayan..

For Your Info, parkir menginap ini lokasinya sedikit berbeda dengan parkir reguler. Kalau kita masuk lapangan parkir Terminal 2 itu, parkir khusus menginap ini posisinya berada di sebelah kanan dan dapat dikenali dengan mudah karena parkiran ini dilengkapi dengan atap pelindung cuaca bagi kendaraan-kendaraan yang diparkir di sana. Lokasinya memang tetap berada di dalam area parkir Terminal 2 yang biasa. Hanya saja, setelah kita mendapat kartu parkir, kita harus masuk lagi ke gerbang parkir khusus kemudian mendaftar di loket parkir khusus menginap. Setelah itu kita akan diberi secarik kertas perihal data-data kendaraan kita. Kunci mobil tetap kita yang pegang, dan karcis parkir ini jangan sampai hilang. Perhitungan tarifnya sendiri adalah Rp 20.000 untuk 6 jam pertama, kemudian Rp 2.000 untuk satu jam berikutnya. Tertarik untuk mencoba? Hari gini, bo.. Kudu hati-hati ninggalin mobil di rumah waktu liburan.. Mending diparkir di Bandara aja kan? :mrgreen:

Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Rencana Terminal 3 Soetta

Artist Impression Terminal 3 Soetta

Dalam perjalanan pulang, tak jauh dari Terminal 2 saya melihat bangunan Terminal 3 Soekarno-Hatta yang sudah hampir jadi. Wow.. Desain eksteriornya tampak modern, atraktif, dan futuristik dengan material seperti besi baja putih berkilauan layaknya bangunan bandara modern di luar negeri. Terdapat logo “T3″ dengan warna yang mencolok atas atapnya. Asyik.. tak lama lagi kita dapat menikmati terminal Bandara yang lebih bagus.. Yang spesial, selain dibangun dengan konsep ramah lingkungan yang modern, Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta nantinya juga akan dapat menampung pesawat super jumbo Airbus A380 yang terkenal itu. :)

Kabar baiknya, Terminal 3 Soekarno-Hatta segera dibuka untuk umum mulai Tanggal 15 April 2009. Terminal 3 ini akan digunakan untuk terminal maskapai penerbangan berbiaya rendah (low cost carrier). Hore!

T3 Soekarno-Hatta (Low Cost Carrier)

T3 Soekarno-Hatta (Low Cost Carrier)

5 comments so far

  1. Tomi on

    Thx info parkir mobil inapnya. Kebetulan lagi mo nginepin mobil juga ni, di terminal 2 Soetta. Tanya mbah gugel,.. ketemu deh artikel ini. Thx a lot buat tulisannya ! :) Salam Kenal.

  2. Rizky Dwinanto on

    Terima kasih infonya, sangat membantu.
    Kebetulan ada rencana untuk menginapkan mobil di bandara untuk 3 hari kedepan.

    Salam,
    Rizky

  3. Hendra on

    broo berapa tarif buat parkir inap mobil /harinya di terminal 2
    thank you

  4. Tri Setyo Wijanarko on

    wahhh nice trip mas.. dapet 737 NG pula..
    saya aja belum kesampaian naik 737 NG-nya garuda.. :)

  5. Ronni on

    Thanks atas infonya, sangat membantu…


Leave a reply