Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan

Gerbang Utara

Ragunan Zoological Park

Kalau minggu lalu saya berkesempatan mengunjungi taman hiburan terbesar di Asia Tenggara, maka minggu ini saya melancong ke kebun binatang terbesar di Asia Tenggara. Hohoho.. Suatu hari saya pernah menyaksikan liputan tentang Taman Margasatwa (TM) Ragunan di sebuah stasiun televisi luar negeri. Disebutkan bahwa selain merupakan kebun binatang terbesar di kawasan Asia Tenggara, TM Ragunan ternyata juga memiliki sebuah pusat konservasi primata terbesar di dunia. Yang dimaksud primata itu adalah Gorila, Orang Utan, Siamang, dan kawan-kawannya. Wah, saya jadi pengin ke sana, nih..

Hari itu adalah Hari Minggu yang cerah. Seorang kenalan mengajak jalan ke Taman Margasatwa Ragunan. Secara saya memang belum pernah ke kebun binatang ini sebelumnya, maka ini adalah kesempatan yang baik bagi saya untuk mengunjungi TM Ragunan. Lagipula saya juga penasaran dengan pusat primata terbesar di dunia itu.

Taman Margasatwa Ragunan

Taman Margasatwa Ragunan

Masuk pelataran parkir TM Ragunan, saya harus membayar biaya Rp 5.500 untuk parkir mobil dan tiket masuknya sebesar Rp 4.500 per orang dewasa. Saya cukup terkejut dengan besarnya antusiasme masyarakat yang datang ke TM ini. Sumpe lo, ternyata orang Jakarta banyak juga yang doyan jalan-jalan di mari. :mrgreen: Sayang sekali, pelataran parkir TM Ragunan saat itu sungguh semrawut dan ramai dengan kehadiran para pedagang kaki lima yang berjualan tidak teratur. Setelah cukup lama berputar-putar mencari tempat parkir, melewati sempitnya jalan di sela-sela pedagang kaki lima tanpa bantuan petugas parkir, akhirnya saya mendapatkan tempat parkir yang nyaman, kemudian bergegas masuk ke dalam TM Ragunan untuk membeli makanan di kantin (laper bo!). Usai makan, barulah saya memulai ekspedisi Ragunan hari ini.

Walaupun mentari bersinar terik, areal TM Ragunan seluas 140 hektar ini tetap teduh dan sejuk berkat banyaknya pepohonan hutan hujan tropis yang rindang di sana. Landscape TM Ragunan pun lengkap dengan danau yang indah beserta berbagai sarana aktifitasnya, seperti sepeda air, rakit, hingga roller coaster anak-anak. Untung kebun binatang ini luas sekali, sehingga banyaknya pengunjung yang datang tidak membuatnya terasa sesak.

Kita harus berjalan kaki dari satu kandang ke kandang yang lain. Jika tidak ingin berjalan kaki, tersedia rental sepeda di sana. Kalo mau, boleh juga naik kereta wisata yang tersedia. Berbagai macam binatang tropis bisa kita lihat dari dekat. Mulai dari yang melata, merayap, bergelantung, berjalan, berenang, hingga yang terbang pun ada. Komplet dah! Saya sudah cukup lama berjalan kaki menjelajah sudut-sudut kebun binatang ini dan mulai merasa lelah, tapi saya belum juga menemukan pusat primata terbesar di dunia yang terkenal itu. Di manakah gerangan ia berada?

Pusat Primata Schmutzer

Sampailah saya di salah satu penjuru TM Ragunan, dan tampaklah di sana kemegahan Gedung Pusat Primata Schmutzer (PPS).

Pusat Primata Schmutzer

Pusat Primata Schmutzer


Namanya kok aneh ya? Rupanya Schmutzer diambil dari nama mendiang Ibu Pauline Antoinette Schmutzer-versteegh (1924-1998), seorang pelukis dan pecinta binatang berdarah Belanda, kelahiran Wonorejo, Jawa Tengah yang berhati mulia dan mencintai Indonesia. Beliau berkenan menyumbangkan seluruh harta warisannya untuk pendirian pusat primata terbaru ini. Sebelumnya, beliau juga telah beberapa kali menyumbangkan hartanya untuk pembangunan berbagai kandang di TM Ragunan, seperti kandang singa, harimau, beruang, dll. Kini, berkat kebaikan hatinya, Jakarta memiliki sebuah pusat primata terbesar di dunia seluas 13 hektar. Sebelumnya, pusat primata terbesar di dunia berada di Leipzig, Jerman dengan luas 4,5 hektar.

Eksterior Pusat Primata

Eksterior Pusat Primata Schmutzer

Gedung PPS memang luar biasa bagus dan terawat. Pintu masuknya berupa kubah besar dan pengunjung yang baru datang akan langsung naik tangga menuju ke lantai dua. Sepintas mirip dengan pintu masuk Keong Mas di TMII. Di lantai dua, pengunjung akan menuju ke waving gallery, yaitu lorong melayang mirip jembatan penyebrangan sebagai tempat kita menyaksikan kehidupan Gorila Afrika yang ada di bawahnya. Terowongan ini memanjang hingga ke bagian belakang. Jika sudah puas menikmati waving gallery, selanjutnya kita turun melalui tangga yang terdapat di ujung terowongan menuju ground level. Dari sini kita bisa melihat Gorilla dalam posisi yang sejajar dengan pandangan mata. Tak jauh dari situ, masih terdapat penangkaran primata-primata asli Indonesia seperti Orang Utan, Owa Jawa, Siamang, dll.

Ruang Pendidikan Pusat Primata

Ruang Pendidikan Pusat Primata Schmutzer

Di bagian lain PPS terdapat pula Pusat Pendidikan Primata, yang dilengkapi perpustakaan dan theater yang memutar film dokumenter tentang primata Indonesia dan dunia. Di sana juga dipajang berbagai pesan, kesan, berikut tanda tangan artis-artis Indonesia yang pernah berkunjung dan terkesima dengan keberadaan PPS. Terdapat pula gerai yang menjual cinderamata khas Pusat Primata Schmutzer. Saya takjub dengan kebersihan, kerapian, dan keterawatan pusat primata ini. PPS sungguh atraktif, bagai kebun binatang di luar negeri! Dan di sinilah akhirnya saya menemukan satu-satunya toilet yang bersih dan layak pakai di TM Ragunan.

Interior Pusat Primata

Interior Pusat Primata Schmutzer

Untuk masuk ke PPS, kita dikenakan biaya Rp 5000 per orang dewasa. Pengunjung diperkenankan membawa kamera, ponsel, dan dompet ke dalam sana. Selain daripada itu, harus dititipkan di tempat penitipan yang tersedia. Pengunjung dilarang makan dan merokok di dalam. Pelanggar yang tertangkap kamera CCTV akan dikenakan denda. Pada beberapa titik di dalam area PPS tersedia air minum gratis melalui alat pancuran air minum (drinking fountain) seperti yang tersedia di taman kota di negara-negara maju. Canggih ‘kan? Yang menarik, di bagian pintu masuk PPS terdapat patung replika Gorila yang dibuat dengan ukuran asli. Saya melihat banyak putra-putri Indonesia yang dengan antusiasnya asyik berfoto dengan replika Gorila ini. :D

Primata yang dirawat di PPS sungguh beruntung. Seperti juga di Kebun Binatang San Diego (Amerika Serikat), kehidupan primata di Schmutzer (Indonesia) dirancang seperti kehidupan alam bebas tanpa kandang tertutup, atau disebut dengan enklosur. Beberapa kandang lainnya ada pula yang ditutup kaca dan memiliki pengatur suhu. Selain itu terdapat sebuah klinik hewan untuk merawat primata yang sedang sakit.

Usai “menikmati” Pusat Primata Schmutzer, hari sudah menjelang sore dan cuaca mendung. Saya memutuskan untuk pulang. Wah, rupanya pusat primata ini terletak jauh dari pintu utara tempat saya parkir tadi.

Saya harus berjalan lagi, padahal kaki sudah super pegal dan lecet. FYI, saya ke sana memakai sandal casual yang biasa saya pakai ke mal, dan ini adalah suatu kesalahan! Tahu begini, seharusnya tadi saya memakai sepatu kets bo. Dalam perjalanan menuju pintu keluar, masih ada beberapa jenis hewan yang tadi belum sempat saya lihat, seperti zebra dan jerapah. Saya juga melewati sebuah komplek kebun binatang anak-anak dan arena outbound.

Hore, akhirnya saya sampai juga di luar. Lelah sekali kaki saya tak kuasa menahan rasa ingin selonjor setelah baru saja dipakai berkeliling kebun binatang terbesar di Asia Tenggara ini. Walaupun badan terasa lelah, tetapi tak pernah menyangka bahwa pikiran akan jadi segar sekali begitu keluar dari TM Ragunan. Semua rasa penat dan tekanan hidup sehari-hari mendadak lenyap dari pikiran dan seketika hanya meninggalkan kesan senang dan puas. Saya pun tersadar, rupanya rekreasi kebun binatang semacam ini sungguh baik bagi kesehatan. :D

Di pelataran parkir, saya melihat beberapa orang penjual cotton candy ada di sana. Saya tak ingat lagi kapan terakhir kali menikmati permen kapas yang legendaris ini. Sudah lama sekali, jadi kangen dengan rasanya.. Beli satu, ah!

Gallery

Beberapa dokumentasi foto saya di Taman Margasatwa Ragunan dan Pusat Primata Schmutzer

8 comments so far

  1. Regina on

    Wah gw belum pernah ke Ragunan neh hehehe…Cuma bikin rencana mulu tapi gak pergi2 :P
    Kapan2 kalo ada waktu, pasti pergi dah secara deket :P

  2. akmal on

    wahhh. . . . .kedapetan proyek dosen neh ngurusin Taman Margasatwa Ragunan. . . .bagi2 info mengenai exisiting tapak n luasan tapaknya dung. . .

  3. yacob semesta on

    wah baru tau klo ragunan punya prestasi kya gitu..lam knal ya… :D

  4. anisa on

    Wah… baca post ini jadi ikutan bangga sama ragunan nih. Dulu si lumayan sering jogging pagi2 di Ragunan. Mesti dicoba jg tuh karena seru bgt jogging pagi di Ragunan, udaranya sejuk & banyak yg bisa diliat jd ngga bosen ^_^

  5. titin on

    sudah lama banget penge ke sana tapi gagal terus………..
    saking pengen ke sana pernah nekat beberapa kali mengajukan rencana di darmawisata kantor tapi selalu di tolak pada gengsi x hahaha…
    tapi lebaran ini pasti ke sana…..
    nga sabaran banget nich…….
    ragunan……… wait 4 me……

  6. Daffa Naufal Lubis on

    Dulu, saya waktu TK-A ke “Kebun Binatang Ragunan Jakarta” saya lagi melihat binatang dari Afrika selatan binatang liarnya banyak sekali ada Gajah, Zebra, Jerapah, Unta, Badak, Kuda Nil, Macan Tutul, Singa, Burung Merak, Primata, Kambing Gunung, Harimau, Rusa, Burung Bangau, Beruang Madu, Burung Kakaktua, Owa-Owa dan Ikan Piranha banyak binatangnya ada juga Arena bermain, Playground, kolam Reneng dan Canping Ground satwa itu buat Kereta Gantung. Sama kaya di Taman Safari Indonesia naik unta 50.000 naik gajah 100.000 kata tukang becaknya. senang main disana bersama teman-temannya. Asyik! Hahahahaha….. Pasti menyenangkan sekali..

  7. shanti on

    Kalo mo nanya-nanya, gak ada no telp yang bisa dihubungi..
    Ada banyak sich no nya.. tapi ga ada yg angkat..
    Pdhal waktu nelp normal tuch pk 09.40 – mpe capek

  8. tya,anastasya on

    YaH ,,bangga deh jadi wrga jakarta,,,,gw jg bru dari sana ,,,acra sekolah ,,yah jadi gw skrang lg di srh bkn karya tulis tetng primata dehhhh,,,pucing


Leave a reply