Arsip untuk Maret, 2009|Halaman arsip bulanan
Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan
Kalau minggu lalu saya berkesempatan mengunjungi taman hiburan terbesar di Asia Tenggara, maka minggu ini saya melancong ke kebun binatang terbesar di Asia Tenggara. Hohoho.. Suatu hari saya pernah menyaksikan liputan tentang Taman Margasatwa (TM) Ragunan di sebuah stasiun televisi luar negeri. Disebutkan bahwa selain merupakan kebun binatang terbesar di kawasan Asia Tenggara, TM Ragunan ternyata juga memiliki sebuah pusat konservasi primata terbesar di dunia. Yang dimaksud primata itu adalah Gorila, Orang Utan, Siamang, dan kawan-kawannya. Wah, saya jadi pengin ke sana, nih..
Hari itu adalah Hari Minggu yang cerah. Seorang kenalan mengajak jalan ke Taman Margasatwa Ragunan. Secara saya memang belum pernah ke kebun binatang ini sebelumnya, maka ini adalah kesempatan yang baik bagi saya untuk mengunjungi TM Ragunan. Lagipula saya juga penasaran dengan pusat primata terbesar di dunia itu.
Masuk pelataran parkir TM Ragunan, saya harus membayar biaya Rp 5.500 untuk parkir mobil dan tiket masuknya sebesar Rp 4.500 per orang dewasa. Saya cukup terkejut dengan besarnya antusiasme masyarakat yang datang ke TM ini. Sumpe lo, ternyata orang Jakarta banyak juga yang doyan jalan-jalan di mari.Walaupun mentari bersinar terik, areal TM Ragunan seluas 140 hektar ini tetap teduh dan sejuk berkat banyaknya pepohonan hutan hujan tropis yang rindang di sana. Landscape TM Ragunan pun lengkap dengan danau yang indah beserta berbagai sarana aktifitasnya, seperti sepeda air, rakit, hingga roller coaster anak-anak. Untung kebun binatang ini luas sekali, sehingga banyaknya pengunjung yang datang tidak membuatnya terasa sesak.
Kita harus berjalan kaki dari satu kandang ke kandang yang lain. Jika tidak ingin berjalan kaki, tersedia rental sepeda di sana. Kalo mau, boleh juga naik kereta wisata yang tersedia. Berbagai macam binatang tropis bisa kita lihat dari dekat. Mulai dari yang melata, merayap, bergelantung, berjalan, berenang, hingga yang terbang pun ada. Komplet dah! Saya sudah cukup lama berjalan kaki menjelajah sudut-sudut kebun binatang ini dan mulai merasa lelah, tapi saya belum juga menemukan pusat primata terbesar di dunia yang terkenal itu. Di manakah gerangan ia berada?
Baca selebihnya »
Picasa, Software Pengolah Gambar Ajaib Untuk Pemula
Kegiatan fotografi sudah menjadi bagian dari keseharian kita dewasa ini, terutama yang tinggal di kota-kota besar. Dengan kemajuan teknologi jaman sekarang, kita pun jadi mudah sekali untuk mengabadikan momen-momen yang kita anggap berkesan, kapan pun dan di mana pun kita berada, hanya dengan berbekal sebuah kamera ponsel yang selalu kita tenteng ke mana-mana setiap hari. Sebuah telepon seluler memang diciptakan agar bisa dibawa-bawa dengan nyaman. Kehadiran fitur kamera yang jamak ditanamkan pada ponsel-ponsel keluaran terbaru membuat aktivitas memotret menjadi semakin nyaman dan mobile.
Namun demikian, hasil jepretan kamera ponsel tentu saja tidak sebagus kamera digital (non-ponsel) yang memang sengaja dirancang untuk kebutuhan imaging yang mumpuni. Boleh dibilang, hasil jepretan kamera ponsel hanya asal jadi saja, sekalipun ukuran kamera ponsel tersebut sudah bermega-mega piksel. Gambar yang diambil dari kamera ponsel pada umumnya, walaupun kamera ponsel tersebut memiliki fitur auto-focus maupun beragam fungsi auto-auto lainnya, tetap saja hasilnya selalu pas-pasan dan terkadang kurang memuaskan. Untuk mendapatkan hasil foto yang berkualitas baik, tak jarang dari kita yang kemudian harus memolesnya terlebih dahulu dengan suatu program di komputer sebelum mencetaknya atau upload ke internet.
Salah satu piranti lunak (software) yang cukup terkenal di dunia olah foto digital adalah Adobe Photoshop. Namun demikian, cara penggunaan software ini boleh jadi terlalu rumit, terlebih bagi kita yang awam dalam dunia edit-mengedit foto digital. Memang Adobe Photoshop bukan ditujukan bagi orang amatir, melainkan ia diciptakan untuk kebutuhan olah foto digital para profesional. Diperlukan keahlian khusus untuk menguasainya secara penuh, bahkan ada tempat kursus komputer di Jakarta yang membuka kelas khusus program Adobe Photoshop. Lagipula, harga software Adobe Photoshop yang asli juga tidak bersahabat dengan kantong para fotografer amatir seperti saya. Hehe~
Nah, untuk Anda fotografer pemula yang ingin meningkatkan kualitas hasil jepretan digitalnya, sekarang tersedia software yang bernama Picasa 3.0. Ini adalah software pengelola gambar keluaran Google Inc. Seperti biasa, software keluaran Google selalu dibuat sederhana, mudah digunakan, tampilannya menarik, dan yang terpenting: Gratis!
Menikmati Gondola, The Ancol Cable Car
Beberapa waktu yang lalu saya menyempatkan diri melancong ke taman hiburan terbesar di Asia Tenggara: Ancol. Di komplek taman hiburan paling fantastis di Indonesia yang terletak di tepi pantai Jakarta Utara ini terdapat beberapa wahana yang mengasyikkan, di antaranya yang cukup terkenal dan sudah beberapa kali saya kunjungi adalah Ice World, Seaworld, Atlantis, Gelanggang Samudera, dan tentu saja Dunia Fantasi (Dufan).
Tak seperti biasanya, kali ini saya ke Ancol bukan mau ke Dufan, tetapi saya ke sana hendak mencoba wahana Ancol Cable Car yang oleh pihak manajemen Jaya Ancol diberi merek “Gondola”. Walaupun sudah lama diresmikan, wahana yang satu ini memang belum pernah saya naiki.. Terakhir kali saya pernah naik wahana semacam ini adalah di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ketika saya masih kecil. Kalo di TMII, wahana ini diberi nama Kereta Gantung (TMII Skylift). Setahu saya, wahana yang mirip semacam ini juga terdapat di Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor.
Apabila di Kereta Gantung kita disuguhi pemandangan berupa gugusan kepulauan Indonesia yang dibuat mini, maka di Gondola, panorama yang bisa kita nikmati tentunya adalah sekitar kawasan Ancol, Teluk Jakarta, dan tak ketinggalan hiruk pikuk kapal-kapal di Pelabuhan Internasional Tanjung Priok. Asyik juga rasanya menikmati garis cakrawala Laut Jawa dengan gugusan Kepulauan Seribu yang ada di sana. Apalagi ditambah sensasi jiwa saya yang timbul ketika Gondola mulai melaju cepat meninggalkan stasiun membawa tubuh saya bergelantungan di ketinggian setelah sekian lama tidak pernah mencobanya. Rasanya ngeri-ngeri sedap menggetarkan emosi gimanaaa gitu. Hehehe.. (lebay..)
Red Cliff 2 (赤壁)
Well, sebenarnya ini adalah lanjutan dari film Red Cliff yang pernah saya tonton tahun lalu. Ketika itu, tak pernah terbesit di benak saya bahwa ini adalah film sekuel. Dari judulnya tertulis hanya: Red Cliff (tanpa embel-embel angka 1). Saat menyaksikan akhir cerita yang semakin seru, barulah saya tersadar bahwa ini adalah film bersambung. Di tengah-tengah cerita (lagi asik-asiknya nonton nih), tiba-tiba muncul tulisan: Bersambung.. “loh loh.. apa-apaan ini? film bioskop kok bersambung?”, pikir saya waktu itu.
Beberapa waktu yang lalu di awal tahun 2009 akhirnya keluar juga sekuelnya: Red Cliff II. Karena terpaksa sudah nonton yang sekuel pertama, saya pun harus menonton yang kedua ini untuk mengobati rasa kesal penasaran saya.
Cerita Red Cliff II sendiri langsung dimulai tentang Sun Shangxiang (diperankan oleh Zhao Wei) yang sudah menerobos masuk ke markas Cao Cao. Sun Shangxiang menyamar menjadi laki-laki untuk memata-matai gerak-gerik kubu Cao Cao. Jadi, kalo sebelumnya kita tidak menonton sekuel pertamanya, saya jamin pasti kita akan bingung setengah mampus dengan kisah ini.
Jujur saja, saya sendiri agak kesulitan dalam mengingat nama-nama peran dan lokasi di film ini, secara nama-nama Mandarin memang cukup sulit untuk saya ingat (boro-boro ingat, membaca saja saya sulit.. hahaha). Namun demikian, saya masih bisa menikmati film ini walaupun ga hafal nama-nama perannya, yang penting hafal wajah orangnya saja.
Yang saya suka dari film ini adalah strategi yang dijalankan kubu Zhou Yu dalam aksinya melawan kubu Cao Cao. Dalam peperangan, tampaknya jumlah orang dan armada bukanlah penentu kemenangan. Namun justru permainan strategilah yang menjadi kunci keberhasilan. Zhou Yu yang memiliki tentara dan armada yang jauh lebih sedikit, bahkan kekurangan senjata panah, dengan cerdiknya “menerima” 100.000 anak panah dari kubu Cao Cao melalui suatu strategi “jebakan” yang bikin gw excited banget. Dalam aksinya kali ini, kubu Zhou Yu mendesain beberapa kapal berselimut jerami. Pada saat kabut sedang tebal-tebalnya, mereka mendekat ke armada Cao Cao, kemudian melancarkan serangan pura-pura, berharap kubu Cao Cao akan membalas mereka dengan tembakan anak panah. It works! Dengan bodohnya, kubu Cao Cao kemudian menghujani ribuan anak panah ke arah armada Zhou Yu di tengah kabut yang pekat. Cao Cao tidak melihat bahwa sebenarnya kapal-kapal Zhou Yu yang berselimut jerami tadi mampu menjerat hujan anak panah yang ditembakkan Cao Cao. Ribuan anak panah yang ditembakkan Cao Cao menancap di kapal-kapal Zhou Yu dan siap untuk dibawa pulang. Dengan bahagianya, kubu Zhou Yu pulang dengan membawa 100.000 anak panah “pemberian” Cao Cao yang menancap di berbagai sisi kapal-kapal mereka..
Baca selebihnya »
Komentar (8)

Komentar (6)
Komentar (2)

