Arsip untuk Januari, 2009|Halaman arsip bulanan
Room Mate (Film Iran)
Room Mate di sini adalah sebuah judul film. Kali ini bukan film Amerika Serikat, bukan film Eropa, bukan Korea, bukan juga Indonesia. Ini adalah film dari Iran! Ya, Iran tetangganya Irak di timur tengah itu. Tumben amat gw nonton film Iran..
Jadi kemarin ini saya baru jalan-jalan ke Giant Hypermarket di Lebak Bulus situ, trus ketemu DVD bergambar wanita berkerudung dan pria ke-arab-arab-an dengan judul “Room Mate”. Semula saya kira ini adalah film Indonesia secara film ini ‘terdesak’ berada di tumpukan DVD-DVD Indonesia lainnya. Tapi seingat saya, belum pernah dengar ada film Indonesia yang judulnya Room Mate. Tak lama saya pun sadar bahwa itu adalah film Iran.. Sampul depan dan ide ceritanya menurut saya sejatinya cukup menarik untuk disimak, ditambah harganya yang dibanderol ‘hanya’ Rp 29.000 saja. Ini DVD asli bin original loh.. Lunas Pajak. Hehehe..
Sinopsisnya begini:
Culture of Islam society, as well as civil law in Iran does not accept leaving of an unmarried couple in the same house. Room Mate, is the story of problems of a student girl who finds no choice but to leave in a house with a boy husband…
Akhirnya saya belilah itu DVD, itung-itung sekali-kali ganti film negara lain, lagian film dan drama Korea akhir-akhir ini lagi ga ada yang oke.
Room Mate berkisah tentang Mahsa, seorang mahasiswi asal daerah yang kuliah sekaligus bekerja paruh waktu sebagai editor di Tehran. Saat ini ia dipaksa keluar dari rumah kosnya karena rumah tersebut akan dipakai anaknya si pemilik yang baru saja menikah. Mahsa bingung setengah mampus keliling Tehran mencari rumah kos atau asrama untuk tempat ia tinggal. Masalahnya, rumah kos yang ia temui selalu saja harganya terlalu mahal dan si pemilik hanya bersedia menyewakan rumahnya pada orang yang sudah menikah (ini adalah sesuatu yang aneh bagi saya). Untunglah teman baiknya punya nenek yang akan pergi berlibur ke luar negeri. Si nenek mengijinkan rumahnya dipakai secara gratis sementara waktu ia pergi, namun dengan syarat si pemakai harus sudah berkeluarga (nah lo.. lagi-lagi muncul alasan itu lagi.. rumah hanya disewakan bagi mereka yang sudah menikah). Mahsa kemudian mengadakan ‘audisi’ kecil-kecilan untuk seleksi suami gadungannya yang akan berakting di depan si nenek demi mendapatkan ijin menempati rumah tersebut.
Ia bertemu Jamshid, seorang mahasiswa kedokteran yang bekerja paruh waktu di sebuah restoran di Tehran. Mereka berdua menemui si nenek dengan berpura-pura menjadi suami-istri. Ia pun diijinkan untuk tinggal di rumah tersebut. Celakanya, beberapa jam setelah nenek meninggalkan rumah, si nenek kembali lagi karena rupanya visa yang ia miliki sudah kadaluwarsa. Sang nenek kembali ke rumah dan akan tinggal sementara di lantai atas sembari menunggu permohonan visa barunya dikabulkan. Dengan demikian Jamshid terpaksa masuk ke rumah itu sebagai suami palsu Mahsa. Tak pelak lagi, mereka berdua harus terus menerus mengarang cerita, berakting, dan berbohong untuk menutupi kebohongan demi kebohongan.
Depok Fantasi Water Park
Beberapa waktu lalu di bulan Agustus 2008, di kota saya tercinta Depok, baru saja dibuka sebuah wahana taman permainan air tematik yang dinamakan Depok Fantasi Water Park (DFW). Wahana permainan air ini mengambil tema 1001 malam Aladdin (Arabian Night). Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan ‘mencicipi’ taman air yang satu itu secara tak direncana.
Sepanjang hari itu cuaca di Depok mendung. Menurut saya, cuaca mendung adalah saat yang paling tepat untuk berenang! Karena saat mendung kulit kita tidak akan ‘terbakar’ teriknya matahari. Hehehe.. Sudah mendung, di rumah mati listrik pula. Dah, tanpa pikir panjang saya langsung menuju TKP. DFW dapat dicapai dalam 15 menit berkendara dari rumah saya.
Di DFW terdapat kolam dangkal tempat bermain anak-anak lengkap dengan berbagai macam permainan dan perosotan, dari yang ‘ecek-ecek’ sampai yang melingkar-lingkar tinggi. Terdapat ‘meriam air’, ember raksasa, jungkat-jungkit, dll. Saya mencoba perosotan yang berwarna biru. Di luar perkiraan saya, perosotan ini rupanya serem juga. Walaupun kelihatannya tidak terlalu tinggi (bila dibandingkan dua perosotan di kanan dan kirinya), perosotan biru memiliki kemiringan yang curam sehingga membuat kecepatan terjun kita jadi mendebarkan.. Gara-gara itu, saya sempat parno naik perosotan yang lebih tinggi berwarna kuning. Tapi karena rasa penasaran lebih tinggi dari rasa takut, maka saya akhirnya memberanikan diri naik ke perosotan yang kuning itu.
Berbekal pengalaman kaget saat meluncur di perosotan biru tadi, maka kali ini saya harus ekstra waspada dan hati-hati. Sesampainya di atas, di sana telah bersiaga seorang lifeguard, kemudian ia memberi instruksi agar badan saya selalu dalam posisi duduk membungkuk dengan tangan sejajar dengan paha. Jika sampai kemudian posisi tubuh saya tak sengaja terlentang terbawa angin, si mas lifeguard berpesan agar saya ‘memberontak’ sebisa mungkin untuk kembali ke posisi duduk. Duh.. si mas bikin tambah jiper aja..
Dag dig dug.. Jreng.. jreng.. Saya pun meluncur.
Yiihaa..
Syuuuuttt…
Rupanya perosotan kuning ini tak securam yang biru tadi. Kecepatan luncur tubuh saya di perosotan kuning tidak secepat saat di perosotan biru. Mungkin karena saking hati-hatinya saya, tubuh saya malah terhenti di tengah jalan. Loh?? Dengan beberapa hentakan, tubuh saya kemudian melaju lagi.. sruuutt.. dan… splash!!! wuah..
Coba lagi ahhh..
Selain kolam dangkal yang penuh permainan itu, pada penjuru lain di kompleks ini terdapat kolam terpisah yang disebut “Jasmine Enchanted Pool” (Jasmine merujuk pada nama seorang tokoh wanita di cerita 1001 malam). Kolam ini berbentuk seperti persegi panjang dengan kedalaman yang cukup dan ditujukan bagi mereka yang sudah mahir berenang. Haa~ saya pun menghabiskan waktu lebih banyak di kolam Jasmine itu.
Byar byur.. tak terasa perut mulai keroncongan. Saya mengakhiri aktifitas renang saya kemudian bersantap di kantin yang ada di sana. Sayangnya, kantin ini menggunakan wadah makanan dari material expanded polystyrene foam (atau biasa disebut secara salah kaprah sebagai styrofoam) yang terkenal tidak sehat dan tidak ramah lingkungan.
Selepas menikmati semangkuk bakso (beraroma aneh) seharga Rp 10.000 saya kemudian berjalan-jalan sejenak, mengambil gambar, kemudian pulang ke rumah. Berikut ini adalah galeri hasil jepretan saya di Depok Fantasi Water Park.
- Ember Raksasa di Depok Fantasi
- Yang kuning khusus dewasa, oranye anak-anak, yang biru justru paling syerem
- Eksterior Bertema 1001 Malam
- Bermain Meriam Air
- Salah Satu Penjuru Jasmine Enchanted Pool
- Jasmine Enchanted Pool
- Depok Fantasi Water Park
- Kolam di Bagian Depan
- Halaman Depan Pelataran Depok Fantasi
Menuju Depok Fantasi Water Park
Depok Fantasi Water Park berada di dalam lokasi perumahan Grand Depok City di daerah Depok Lama. Jika Anda mengemudi dari Jakarta, maka Anda harus melewati Jalan Margonda Raya dan lurus saja terus (continue straight) ke selatan melewati Kantor Walikota Depok kemudian lanjutkan lagi menuju Jalan Kartini ke arah Citayam. Beberapa menit kemudian, gerbang perumahan Grand Depok City (GDC) yang megah akan tampak di sebelah kiri jalan. Masuklah ke gerbang perumahan itu (arah menuju gedung kantor DPRD Depok). Dari gerbang depan GDC menuju DFW adalah berupa jalan yang relatif lurus sejauh 2 km.
Aktifitas
Berenang, bermain, meluncur di papan luncur melingkar, dan terdapat bioskop 4 dimensi di kompleks bagian depan.
Harga Tiket
Selasa-Jumat: Rp 25.000
Sabtu-Senin dan hari libur Rp 40.000
Tiket terusan untuk wahana bioskop 4 dimensi dapat dibeli secara langsung dengan menambah Rp 5.000
Loker: Rp 5.000 untuk sekali kunci
Sewa Ban: Dewasa: Rp 15.000 – Deposit sebesar Rp 20.000
Parkir: Mobil Rp 2.000 untuk 2 jam pertama, Rp 1.000 untuk satu jam berikutnya
Jam Buka
Selasa-Jumat: 09:00-18:00
Sabtu dan hari libur: 08:00-18:00
Senin libur, kecuali bertepatan dengan hari libur nasional
Lain-lain
Terdapat sebuah pusat jajan (foodcourt) yang menawarkan berbagai makanan seperti Bakso, Siomay, Pempek, dll. dengan harga Rp 10.000-an per porsi. Namun Anda sebaiknya berhati-hati karena beberapa makanan di sana disajikan dengan wadah expanded polystyrene foam yang terkenal tidak sehat dan tidak ramah lingkungan.
DFW menjual suvenir ekslusif seperti kaos, gelas, dan topi di pintu depan dekat loket.
Bagaimana? Apakah Anda tertarik untuk berenang di Depok Fantasi Water Park? Demi kenyamanan Anda, hindari berkunjung di akhir pekan karena pada saat itu sepanjang hari Margonda Raya biasanya sangat padat.
Wisata Rohani Puhsarang, Kediri
Pada suatu siang yang cerah di penghujung 2008.. Hore.. Saya akan ke Kediri.
Kediri adalah sebuah kota yang masuk dalam wilayah administratif Propinsi Jawa Timur. Di kota yang kecil ini terdapat salah satu pabrik rokok raksasa di negeri ini: Gudang Garam. Mungkin inilah yang menyebabkan kota ini tampak menonjol dan relatif lebih dinamis bila dibandingkan tetangganya: Blitar yang dari dulu tidak terlihat perubahannya. Namun saya ke Kediri bukannya untuk mengunjungi pabrik rokok itu. (ngapain juga ke sono?) Saya ke Kediri hendak berwisata ke suatu tempat yang disebut Puhsarang (penduduk setempat juga kerap menyebutnya Pohsarang).
Puhsarang berada di pinggiran kota Kediri, dan di sana terdapat kompleks wisata rohani Katolik. Walaupun demikian, selain umat Katolik pun tidak masalah jika ingin datang ke tempat tersebut untuk melihat-lihat atau sekedar menikmati keheningan alam di tengah rindangnya pepohonan. Toh, saat kita masuk ke sana juga ga bakalan ditanya-tanya agama kita apa. Kita hanya diwajibkan membayar biaya retribusi yang akan dimasukkan dalam kas pemerintah daerah Kediri, Jawa Timur.
Sesampainya saya di Kota Kediri, kesan pertama yang saya ingat adalah kota ini tampak sangat jorok. Sampah bertebaran di mana-mana seperti rumput. Mungkin inilah kota terkotor yang pernah saya kunjungi. Kota ini cukup ramai dan sangat macet terutama di jalan yang terdapat di depan plaza Kediri yang baru dibuka itu. Sayang sekali, pembangunan plaza ini tampak telalu dipaksakan. Pusat perbelanjaan tersebut dibangun terlalu dekat ke jalan raya sehingga tidak tersedia ruang manuver bagi kendaraan yang hendak keluar/masuk plaza tersebut. Hasilnya, kendaraan-kendaraan yang hendak keluar/masuk plaza terpaksa bermanuver di jalan, sehingga menyebabkan kemacetan parah. Yaah… Orang jauh-jauh dari Jakarta.. eh di sini ketemu macet juga..
Untunglah kesan-kesan semrawut tadi tidak terdapat di Puhsarang, tujuan wisata utama saya. Puhsarang menawarkan tempat berdoa yang lengkap dan bernuansa alam yang sejuk. Di sana terdapat Gua Maria yang agung dan eksotis, lengkap dengan beberapa pancuran air suci. Yang menarik, pancuran air suci di sana telah dibuat dengan canggihnya menggunakan sistem sensor. Ketika kita mendekat, otomatis air di pancuran akan mengalir, dan hanya akan berhenti secara otomatis jika kita menjauh. Saya kagum juga dengan hal yang satu ini.
Masih di Puhsarang, terdapat ‘arena’ Jalan Salib. Jalan Salib adalah tradisi berdoa secara Katolik yang mengenang sengsara dan wafat Yesus di kayu salib. Mengapa dinamakan Jalan Salib? Karena umat yang mengikuti doa ini harus berjalan dari satu stasi ke stasi selanjutnya berurutan sesuai timeline yang telah diatur. Jalan Salib juga biasa disebut sebagai ‘Via Dolorosa’ dalam Bahasa Latin (bahasa liturgis gereja Katolik), atau Stations of the Cross dalam Bahasa Inggris. Tidak seperti biasanya, stasi-stasi (pemberhentian) Jalan Salib di Puhsarang spesial dibuat dengan diorama patung-patung yang besar, menggambarkan sengsara Yesus dari saat Ia dijatuhi hukuman mati, disalibkan, hingga bangkit dari kubur. Tak jauh dari lokasi jalan salib ini, juga terdapat tempat berdoa rosario.
Di komplek ini terdapat banyak pepohonan hutan tropis yang rindang, lengkap dengan jurang beserta sungai yang mengalir di bawahnya. Gemercik suara air sungai, angin sepoi-sepoi menciptakan sempurnanya suasana saat itu. Eksotis banget dah..
Konon komplek wisata rohani ini sengaja dibangun menyerupai komplek gua Maria di Lourdes, Prancis. Pembangunan komplek Gua Maria Puhsarang memang dibuat berdasarkan foto-foto lokasi Gua Maria Lourdes yang asli dari Prancis, dengan tujuan agar kita di Indonesia tak perlu jauh-jauh ke Eropa untuk menikmati wisata rohani semacam ini. Cukup ke Kediri di Jawa Timur.
Galeri
(klik untuk melihat ukuran lebih besar)
- ATV at Bukit Daun Resort, Kediri
- Suatu hari di Kediri
- Our Lady of Puhsarang, Kediri, East Java, Indonesia
- Just Another View of Puhsarang, Kediri
- Belum Ada Judul (BAJ). Hehehe..
- Holy Water of Puhsarang with Automatic Motion Sensor
- First Station of Via Dolorosa: Jesus is Condemned to Death
- Souvenir Shops at Puhsarang
- Swimming Pool at Bukit Daun Resort, Kediri
- International Terminal at Juanda International Airport of Surabaya
- Terminal 2 at Soekarno-Hatta International Airport of Jakarta
Menuju Kediri
Setiap minggu, Garuda Indonesia melayani 108 penerbangan Jakarta-Surabaya dan 7 penerbangan Jakarta-Malang.
Kediri dapat dicapai dalam 3-4 jam perjalanan darat berkecepatan tinggi dari Surabaya, atau sekitar 1-2 jam perjalanan darat berkecepatan tinggi dari Kota Malang.
Tidak ada kendaraan umum yang melayani Malang-Puhsarang maupun Surabaya-Puhsarang. Oleh sebab itu kita dapat mencapainya dengan mengendarai mobil pribadi atau mobil sewaan yang biasanya banyak tersedia di bandara.
Akomodasi
Di dekat komplek wisata Puhsarang terdapat sebuah resor penginapan yang cukup baik dan dapat saya rekomendasikan. Namanya adalah Bukit Daun Resort. Resor ini menawarkan kamar-kamar yang diatur layaknya cottage. Kamar-kamarnya tersebar di luar, tidak berupa deretan kamar-kamar seperti di dalam hotel. Fasilitas yang dapat dinikmati di resor ini antara lain kolam renang, restoran, dan ATV. Saya tak tahu kepanjangan ATV itu apa. Ini adalah kendaraan bermotor roda tiga yang disewakan dengan tarif Rp 25.000 per 10 menit. Asyik juga mengendarainya keliling resor. Tarif kamar Bukit Daun Resort ditawarkan mulai dari Rp 300.000 hingga Rp 1.000.000 per malam.
Aktivitas
Berdoa, Misa, Rosario, Jalan Salib, mengendarai ATV, berenang, leyeh-leyeh.
Oleh-oleh
Oleh-oleh panganan khas Kediri adalah tahu pong dan stik tahu. Tahu pong adalah tahu goreng yang hampir mirip dengan tahu sumedang tetapi teksturnya lebih tebal berisi, sedangkan stik tahu adalah semacam krupuk berbentuk panjang-panjang (stick) yang terbuat dari tahu. Jajanan serba tahu dapat dengan mudah ditemukan di sepanjang perjalanan ke luar kota Kediri.
Selain makanan, kita juga bisa membeli kaos, baju, dan suvenir lokal bernuansa Katolik di dekat Puhsarang.
Tertarik untuk ke sana?
Jawa Timur Day 1
Tanggal 27 ke Bandung, 28 Jakarta-Surabaya-Blitar, 29 Blitar-Kediri, 30 Kediri-Surabaya-Jakarta. Padat sekali bukan jadwal jalan-jalan gw? Hehehe..
30 Desember 2008, saya mengakhiri perjalanan di Soekarno-Hatta sekitar jam 11 malam, dan akhirnya sampai rumah di Depok sekitar jam 1 dini hari di tanggal 31 Desember 2008. Lelah sekali rasanya. Penerbangan malam itu terlambat sekitar 20 menit. Sedihnya, sudah terlambat, AC pesawatnya kurang sejuk, ditambah cuaca buruk pula. Penerbangan kali ini terasa kasar, kurang sejuk, dan bergoyang-goyang. Kepala saya jadi pusing sekali 70 menit Surabaya-Jakarta malam itu.. Huehehe..
Berdasarkan pengalaman saya terbang ke Medan, Denpasar, Timika, Makassar, Biak, Jayapura, dan lain-lain dengan Garuda Indonesia, sekalipun terbang di kelas Ekonomi, kita selalu diberi hidangan nasi atau mie dengan beberapa ragam variasi menu yang boleh kita pilih. Kalaupun diberi roti, biasanya merupakan roti yang ‘berkelas’ sebangsa croissant dan teman-temannya yang sulit saya lafalkan namanya itu. Nah, penerbangan dari dan ke Surabaya kemarin ini, para penumpang hanya diberi konsumsi berupa sepotong coklat kecil ‘kitkat’ dan 2 buah roti ‘murahan’ yang biasanya dapat dengan mudah ditemui di gerobak bakery yang sering lewat di depan rumah. Kenyang sih kenyang.. Tapi.. Waduh.. ada apa dengan Garuda Indonesia? Atau menu makanan Jakarta-Surabaya memang seperti itu? Sebelumnya saya memang tidak pernah naik pesawat dengan rute Jakarta-Surabaya. Tak tahulah, yang jelas saya kurang puas dengan menu makanan Garuda Indonesia yang kemarin itu. :p Walaupun demikian, saya merasa senang dan bersyukur karena berkesempatan mengunjungi Jawa Timur, bertemu dengan saudara-saudari keluarga besar yang berdatangan dari berbagai pelosok ‘tempat perantauan’ di tanah air seperti Pulau Kalimantan, Sumatra, Jawa, Bali, dan bahkan Papua (kurang Sulawesi aja nih..
)
Kemarin ini ceritanya keluarga besar gw pulang kampung a.k.a. mudik. Ke mana lagi kalau bukan ke Blitar, kota Patria di Jawa Timur itu.
Kota ini dapat ditempuh sekitar 4-5 jam perjalanan darat dari Surabaya. Dahulu saya pernah menikmati pendidikan SD kelas 3, 4, dan 5 di kota ini sebelum kemudian pindah ke Kabanjahe di Sumatra Utara. Sudah cukup lama saya tidak menginjakkan kaki di kota Blitar. Tidak banyak yang berubah dari kota ini. Jalan-jalannya masih terasa lebar dan lancar berkat pengaturan lalu lintas yang pada umumnya searah. Maksudnya, banyak jalan-jalan di kota ini yang sengaja dibuat satu arah saja. Jalan-jalan jadi lancar dan terasa lebar, tapi ‘memaksa’ kita untuk berputar-putar. Hihihi..
Komentar (9)
Komentar (26)









Komentar (7)












