Lost in Bandung
Karena sesuatu hal yang mengharuskan saya untuk pergi ke Bandung, maka untuk pertama kalinya dalam kehidupan ini, saya kemarin berkesempatan untuk menginjakkan kaki di ibukota propinsi Jawa Barat yang sejatinya adalah ibukota propinsi tempat tinggal saya. Haa..
Perjalanan kali ini saya tempuh melalui jalan darat dengan mobil pribadi dengan bantuan navigasi alat GPS (Global Positioning System) Mio milik saya yang tercinta.
Tepat pukul 4:00 WIB saya berangkat meninggalkan rumah di Depok menuju ke Bandung via Jakarta. Ada yang aneh dengan GPS saya ini. Menurut rute yang dikalkulasi, perjalanan dari Depok ini seharusnya ke Pondok Indah dulu, kemudian berputar (U-Turn) di sana dan masuk TOL. Hey.. Saya pun mengabaikan panduan GPS yang satu ini dan memilih masuk TOL dari Lenteng Agung daripada Pondok Indah yang lebih jauh itu.. Sampai di TOL, GPS saya ini pun lagi-lagi mengulah aneh.. Menurut panduannya, saya harus menuju Cawang terlebih dahulu.. Padahal jelas-jelas di depan mata ada jalan TOL yang menghubungkan JORR (Jakarta Outer Ring Road) dengan TOL Cikampek. Aha.. saya mengerti, peta GPS saya ini sepertinya tidak update, sehingga jalan TOL yang satu itu rupanya belum terdaftar pada sistemnya.
Dari TOL Cikampek, saya kemudian lanjut menuju TOL Cipularang. Kali ini GPS sudah normal, tidak ‘aneh-aneh’ lagi. Dahulu, temen saya yang doyan ke Bandung pernah bercerita bahwa selama perjalanan ke Bandung itu kita akan ‘disuguhi’ pemandangan alam yang sangat indah di sepanjang jalan TOL. Saya pun membayangkan indahnya pegunungan yang dramatis gimanaa gitu..
Sampailah saya di TOL Cipularang.. Sejauh mata memandang, terhampar gunung dan perbukitan hijau yang diselingi sawah-sawah dan kebun teh khas pedesaan di Jawa Barat. Pemandangan ini ditambah pula bonus berupa ‘penampakan’ matahari yang sedang terbit di balik kabut. Tapi.. kok perasaan saya biasa aja yah? Apa mungkin karena sebelumnya saya sudah pernah menikmati pemandangan alam yang jauh lebih eksotis dan fantastis di dataran tinggi Karo dan sekitar Danau Toba kali ya? Memang pemandangan di jalan TOL Cipularang ini cukup indah. Tapi kalo dibandingkan dengan yang di Sumatera Utara itu.. Waduh, ini siy ga ada apa-apanya cuy.. Hehe..
Dalam perjalanan ini, beberapa kali telinga saya terasa kurang nyaman, pertanda saat itu terdapat perubahan ketinggian selama perjalanan.
Dalam 2,5 jam perjalanan, sampailah saya di daerah yang disebut Pasteur.. Hore.. Saya sampai di Bandung! Dari yang saya dengar selama ini, Kota Bandung itu katanya adalah kota yang dingin. Saya pun membuka jendela mobil ingin membuktikan word-of-mouth itu.. Loh? Loh? Kok kayaknya lebih dingin AC mobil gw ya? Yahh.. antiklimaks dah.. Hehehe.. Emang siy, Bandung lebih dingin dari Jakarta.. Tapi, tadinya gw ngebayangin dinginnya tuh bakal kayak di Berastagi dan Kabanjahe (Sumatera Utara) gitu.. yang dinginnya bisa sampai ke hati.. Haa.. Just FYI: Karena mengikuti tugas ayah, dahulu saya sempat menghabiskan masa kecil di sebuah kota kecil yang bernama Kabanjahe di dataran tinggi Karo (Sumatera Utara).
Kota Bandung tampak dinamis, tapi tidak begitu macet. Semacet-macetnya Bandung, tidak sampai padat merayap. Mobil saya masih bisa jalan.. Kalau di Jakarta, ini disebut: ramai-lancar. Kalaupun ada tumpukan kendaraan yang berhenti pun biasanya terjadi di sekitar perempatan dan lampu merah saja.. Mungkin karena saat itumasih pagi ya, jadi belum begitu macet. Tak lama memasuki kota Bandung, saya melewati sebuah jalan sejenis flyover yang agak panjang dan menarik. Berdasarkan panduan yang saya lihat di layar GPS, daerah ini disebut dengan Jalan Layang Pasopati. Jalan ini cukup unik karena tiang pancang jembatannya yang menjulang tinggi dan berwarna terang itu.
Walaupun saya sudah berbekal panduan GPS, tapi tetap saja alamat yang saya cari rupanya tidak terdaftar di sistem. Sebut saja alamat yang hendak saya cari itu adalah “Jl. A”. Nah, Jl. A ini dapat diakses melalui “Jl. J”. Yang terdaftar di GPS hanyalah Jl. J saja. Mungkin karena Jl. A adalah jalan yang kecil dan bukan jalan yang cukup penting di sana.
Malu bertanya, sesat di jalan. Demikian kata pepatah. Tapi kenyataan saya kemarin itu: Justru bertanya makin tersesat. Hehehe..
Sesampainya saya di Jl. J, saya bertanya ke orang-orang sekitar situ tentang keberadaan, Jl. A. Pria pertama yang saya tanyai mengatakan: (dengan logat Bandungnya) “Oh.. Jl. A?? lurus.. terus.. nanti sampe pengkolan, belok ke sana..” (menunjuk arah kanan). Eheh.. apa pula itu “pengkolan?”
Apa mungkin belokan? atau pertigaan?
Berjalan beberapa meter dari situ, saya kembali bertanya pada orang ke 2.. (Untuk meyakinkan saja bahwa saya berada di jalan yang benar). Kali ini saya bertemu dengan wanita. Ketika saya bertanya, ia berpikir sejenak (beneran mikir ga ya?) Ia pun berkata: “lurus aja jalan ini… trus ke sana..” (lagi-lagi sambil menunjukkan arah kanan). Saya bertanya: “Masih jauh?” Jawabnya: “Ehh.. iya..”
“Oke.. Terima kasih..”
Dari dua orang yang saya temui itu tampaknya mereka tidak terbiasa menyebut arah kanan-kiri.. Apa orang Bandung emang ga terbiasa ngomong “kanan-kiri”? Atau hanya dua orang itu saja? Hehehe..
Saya pun jalan lurus sampai mentok ketemu pertigaan.
Aha.. mungkin ini yang disebut dengan “pengkolan” tadi. Saya ke kanan, kemudian jalan lurus.. Loh? Loh? Kok malah masuk ke komplek perumahan siy? Kembali saya bertanya pada orang yang ada di sekitar situ..
Saya: “Selamat pagi! Pak, Jl. A ada di mana ya?”
Si bapak: “Jl. A??? Saya ga pernah denger itu kalo ada Jl. A di sekitar sini..”
*panic mode: ON* OMG!! I’m lost in Bandung
Si bapak: “Emangnya itu Jl. A di daerah mana yah?”
Saya: “katanya siy di deketnya Jl. J, pak.”
Si bapak: “Oh.. kalo Jl. J mah.. bukan di sini.. Balik aja lagi jalan ini lurus.. trus belok kiri.. Nah.. itu tuh Jl. J di sana”
Saya: “Oh.. gitu.. Ya sudah, terima kasih ya pak!”
Hey, itu kan jalan yang tadi. Kembalilah saya ke jalan itu.. Tak berapa lama di jalan itu, saya menemukan pangkalan ojek. “Nah.. kalo mereka ini pasti tahu!”, pikir saya.
Saya: “Halo pak,, tau Jl. A ga?”
Mr. Ojek: “Oh.. Jl. A??? Luruus aja nih jalan.. trus lewat setopan, nah Jalan A ada di situ sebelah kiri.. keliatan kok. Pokoknya lewat setopan, aja..”
*saya berpikir sejenak* setopan itu apa ya?
aha.. pasti setopan itu diambil dari kata ’stop’ yang ditambahin akhiran ‘-an’, diucapkan dengan dialek Sunda: jadilah ’setopan’. Hehehe.. Mungkin yang dimaksud dengan ’setopan’ itu adalah lampu merah.. Ya sudah.. lanjut saya menuju ke ’setopan’.
Ini kan jalannya beda arah dengan yang ditunjukkan oleh kedua orang pertama tadi.. Duh.. Bikin BT aja.. Kalo ga tau ya bilang ga tau dong.. Jangan menyesatkan gini.. Eeee cape de..
Lewat dari ’setopan’ itu gw periksa sebelah kiri jalan.. Jreng-jreng.. Fiuh.. Akhirnya ketemu juga Jl. A! Memang jalannya kecil. Sebenarnya jalan itu ada sih di peta GPS, tetapi belum diberi nama di sistemnya.
Ya sudah lah.. Apa pun yang telah terjadi, saya tetap bersyukur akhirnya bisa sampai di tujuan dengan selamat.
Selesai urusan saya di Jl. A itu, hari sudah sore. Saya pun hendak pulang ke Jakarta. Ketika memasuki gerbang TOL, ada sesuatu yang berbeda dan tidak dapat kita temukan di Jakarta selama ini. Di sana ada GTO (bukan Great Teacher Onizuka ya?)
GTO adalah singkatan dari Gardu Tanpa Orang. Gerbang tol ini sistemnya otomatis. Pengemudi harus mengambil tiket sendiri dari sebuah alat yang mirip dengan ATM di sana. GTO hanya tersedia bagi sedan dan minibus. Sedangkan untuk truk dan kendaraan lain yang lebih besar harus menggunakan lajur selain GTO.
Pada perjalanan pulang saya menemukan hal baru lainnya.. Di TOL itu terdapat sebuah lajur darurat. Fasilitas ini khusus untuk kendaraan yang rem-nya blong. Dalam keadaan darurat ketika terjadi rem blong memang sangat berbahaya di sana, karena jalan itu banyak berupa turunan tajam. Lajur darurat terletak di sebelah kiri jalan TOL dan berupa tanjakan buatan yang bergelombang untuk menghentikan laju kendaraan yang remnya blong. Wah.. sip.. sip.. Sayang saya tidak sempat ambil fotonya.
Ketika saya sampai di dekat daerah industri di Bekasi Timur, tampaklah di sana antrean kendaraan dari arah yang berlawanan dengan arah mobil saya. Duh.. kenapa mobil-mobil itu sampai harus antre ratusan meter begitu ya? Untunglah jalur saya lancar-lancar saja.
Akhirnya sampailah saya di pintu keluar TOL Lenteng Agung, lalu saya belok kiri ke arah Depok. Waktu saat itu menunjukkan sekitar jam 18. Dinamika lalu lintas Jakarta langsung menyambut kehadiran saya, seolah menyapa sambil mengucapkan: Selamat Datang di Jakarta! Selamat menikmati menu kita petang ini: macet lagi.. macet lagi..
3 comments so far
Leave a reply





Coba nanya saya, sudah biasa bilang kanan kiri
, berhubung sy jg sempat tinggal di Jkt, kemacetan yg ada di Bdg terkadang hampir menyerupai di Jkt terlebih jam berangkat/pulang kerja, tapi memang gak sama persis dgn macetnya jalanan Ibukota. Btw… Jl. A itu jalan apa ya? Jl. Ahmad Yani kah yang dekat Jl. Jakarta? Salam kenal.
hmm itu sih namanya lost in translation juga hahaha
saking bahasanya gak ngerti jadinya gak nyampe2
Besok saya rencananya mau ke Bandung, dari Depok juga.
Wah, sayang Rio nggak ke Bandungnya hari Jumat.
Kalo nggak, kita kan bisa konvoi. Wuehehehe…