Arsip untuk Desember, 2008|Halaman arsip bulanan

O Christmas tree, O Christmas tree!~~

Udah tanggal 24 aja.. Ntar malem mau ikut misa malam natal di Gereja Santo Paulus, Depok yang misa pertama jam 17:30 WIB. Pake baju apa yaaaa? Xixixi..

Kemarin ini gw sama bokap-nyokap lagi sibuk-sibuknya menghias pohon natal di rumah. Asyiknya kalo natalan itu salah satunya ya saat menghias pohon natal bersama keluarga ini.. Pohonnya dihias rame-rame sambil ketawa-ketiwi, ngobrol ngalor-ngidul dari obrolan seputar sampah di depan rumah yang udah hampir 1 minggu ini ga diangkut-angkut sama dinas kebersihan, ngobrolin rencana tur ke Jawa Timur di akhir bulan nanti, sampe ngobrolin mau bikin kue apa buat natalan.. Pasang lampunya, pasang ini, pasang itu, dan ga kerasa akhirnya jadi juga. Setelah itu sore-sore abis mandi duduk-duduk di ruang tamu untuk ‘menikmati’ pohon natal hasil karya tadi siang itu sambil nyanyi-nyanyi diiringi dengan kemampuan bermain keyboard gw yang ala kadarnya. Hehehe..

O Christmas tree, O Christmas tree!~~
How are thy leaves so verdant! ~

Dan saudara-saudari, inilah pohon natal di rumah gw..

Selamat Hari Natal!

Selamat Hari Natal!

Selamat Natal! Semoga Tuhan memberkati. :)

Belanja di Swalayan Jepang: The Daiso

Kemarin gw jalan-jalan ke Mal Artha Gading dan mampir ke sebuah toko yang bernama “The Daiso”. Itu loh, swalayan produk-produk Jepang yang konsepnya mirip Valu$. Barang-barang yang dijual di The Daiso ini katanya diimpor langsung asli dari Jepang. Ada tempat sabun, pembuat sushi, celengan babi, topi anyaman, alat tulis, dan berbagai pernak-pernik khas Jepang modern yang sering kita lihat di TV (di dorama-dorama itu), namun barang-barang tersebut sangat jarang dijumpai di pasaran Indonesia. Semua barang yang dijual di toko itu diberi harga Rp 25.000 per buah (menurut gw sih cukup mahal ya).

Salah satu barang unik yang saya beli di Daiso itu adalah: payung transparan. Kalo sering nonton sinetron Jepang pasti tau dong.. Payung transparan dari material plastik bening tembus pandang ini sering sekali dipake artis-artis di sinetron-sinetron Jepang (kadang-kadang Korea juga). Dari jaman gw SMA dulu payung transparan ini bikin gw mupeng banget pengen beli, tapi ga tau di mana. Masa gw mesti ke Jepang cuma buat beli payung doang? Berbekal informasi dari teks yang dikirimkan seorang teman, gw pun bela-belain ke Daiso buat beli payung itu. Hihihi.. Harganya tentu saja Rp 25.000. Murah apa mahal tuh? Payungnya ga gede-gede amat sih, cuma cukup buat 1 orang. Buatan China tapi labelnya full bahasa Jepang. Lumayan lah.. Secara gw dah lama banget pengin memiliki payung kayak begini, jadi gw langsung beli 2 deh..

Payung Transparan

Payung Transparan Tembus Pandang

Baca selebihnya »

Lost in Bandung

Karena sesuatu hal yang mengharuskan saya untuk pergi ke Bandung, maka untuk pertama kalinya dalam kehidupan ini, saya kemarin berkesempatan untuk menginjakkan kaki di ibukota propinsi Jawa Barat yang sejatinya adalah ibukota propinsi tempat tinggal saya. Haa..

Perjalanan kali ini saya tempuh melalui jalan darat dengan mobil pribadi dengan bantuan navigasi alat GPS (Global Positioning System) Mio milik saya yang tercinta.

Tepat pukul 4:00 WIB saya berangkat meninggalkan rumah di Depok menuju ke Bandung via Jakarta. Ada yang aneh dengan GPS saya ini. Menurut rute yang dikalkulasi, perjalanan dari Depok ini seharusnya ke Pondok Indah dulu, kemudian berputar (U-Turn) di sana dan masuk TOL. Hey.. Saya pun mengabaikan panduan GPS yang satu ini dan memilih masuk TOL dari Lenteng Agung daripada Pondok Indah yang lebih jauh itu.. Sampai di TOL, GPS saya ini pun lagi-lagi mengulah aneh.. Menurut panduannya, saya harus menuju Cawang terlebih dahulu.. Padahal jelas-jelas di depan mata ada jalan TOL yang menghubungkan JORR (Jakarta Outer Ring Road) dengan TOL Cikampek. Aha.. saya mengerti, peta GPS saya ini sepertinya tidak update, sehingga jalan TOL yang satu itu rupanya belum terdaftar pada sistemnya.

Baca selebihnya »

Telkomsel VS XL

Telkomsel VS XL

Kepompong – Sind3ntosca

Judul Lagu: Kepompong
Penyanyi: Sind3ntosca

Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu

Kini kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertingkah kejauhan
Namun itu karena ku sayang

Persahabatan bagai kepompong
Merubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Na…na…na….na….na…na….

Baca selebihnya »

Halaman Berikutnya »